Ingin Rasakan Luasnya Nusantara,Ahmad Jalan Kaki Dari Sabang Sampai Bali

Tips Wisata dan Jalan Jalan
Sudah Dilihat Oleh : 5872 Pengunjung
BIREUEN - Sebagian orang mungkin sudah cukup puas melihat peta untuk mendapatkan gambaran betapa luasnya nusantara. Tapi tidak bagi Ahmad Triadmojo. Pria asal Kediri, Jawa Timur, ini ingin merasakan luasnya nusantara dengan berjalan kaki dari nol kilometer di Sabang sampai ke Bali.

Dengan keringat bercucuran, menenteng tas punggung besar dengan tempelan tulisan -Pejalan Kaki Sabang-Bali-, serta bendera Merah-Putih di sisi kiri, sosok Ahmad menyita perhatian. Sore tadi, dia sedang menapaki jalan Aceh-Medan tepatnya di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh. Tak sedikit pengendara yang menoleh ataupun menyapa Ahmad kala melintas di jalan itu. Pria berusia 33 tahun tersebut pun menyapa balik atau sebatas melemparkan senyum.

"Saya berangkat dari Sabang, 18 hari yang lalu," kata Ahmad yang ikut bersama rombongan All New Nissan NP300 Navara -Ekspedisi Tanah Rencong-, Kamis (21/5/2015) sore.

Ahmad adalah seorang pekerja serabutan. Sepanjang hidupnya dia beredar di sekitar kota kelahirannya, Kediri saja. Lalu apa yang membuatnya melakukan aksi jalan kaki dari Sabang sampai Bali?

"Saya sering mendengar lagu Sabang sampai Merauke, tentang luasnya Indonesia. Saya ingin merasakan, membuktikan seberapa luasnya tanah air ini. Saya mulai dari titik nol kilometer di Sabang sana," kata pria lajang itu menggunakan bahasa Jawa.

Sebelum tiba di Sabang, Ahmad bertolak dari Kediri ke arah barat hanya bermodalkan uang Rp 200 ribu. Dia menumpang truk yang melintas secara estafet. Moda angkutan umum dipakai hanya ketika ia dalam keadaan mendesak, di kala tidak ada truk yang memberi tumpangan.

"Saya sempat mengira Sabang, ujung Indonesia itu di Banda Aceh, karena ujungnya pulau (Sumatera). Ternyata harus menyeberang lagi," kata Ahmad.

Menyeberang dari Sabang dan baru sampai Bireuen 18 hari kemudian, terbilang cukup relatif lama. Ternyata Ahmad punya alasan tersendiri.

"Saya selalu menyempatkan menyambangi kantor kepala daerah untuk meminta surat keterangan bahwa saya sudah melintas," tuturnya.

Ahmad lantas membuka tasnya, mengeluarkan map dan menunjukkan sejumlah surat keterangan dari sejumlah Pemerintah Daerah. Di antaranya Sabang, Banda Aceh, Pidie Jaya, serta Polsek Banda Dua. Inti dari surat keterangan itu adalah mereka mengakui Ahmad telah tiba di kantor mereka, dalam salah satu kegiatan jalan kaki dari Sabang ke Bali.

"Ada yang harus saya tunggui satu hari penuh agar dapat sertifikat semacam ini. Saya perlu surat keterangan ini agar saya bisa menunjukkan ke anak cucu. Sebagai bukti, ini lho le bapakmu pernah ke Medan," ucap Ahmad sembari tertawa.

Modal awal Rp 200 ribu itu telah habis digunakan untuk membeli berbagai keperluan. Kini dan sampai nanti, Ahmad mengandalkan uluran tangan relawan kepada dirinya. "Yang jelas saya tidak pernah meminta," ujarnya.

Terkait dengan tujuan akhir ekspedisinya itu, sebenarnya, seperti lagu -Dari Sabang sampai Merauke- yang dikutip Ahmad di atas, dia juga ingin dapat berjalan kaki dari ujung ke ujung Tanah Air. Namun dia sudah tahu fisiknya tidak akan kuat mencapai Merauke yang ada di ujung timur Papua.

"Kalau pertimbangan saya ya saya mampunya jalan kaki sampai di Bali. Tidak mungkin juga saya berhenti cuma di Kediri. Saya bosan selama ini di Kediri saja," ungkap Ahmad.

Ahmad sendiri cukup slow dengan targetnya mencapai Bali. "Satu setengah tahun lagi lah," tutupnya sembari tersenyum.